Garudapos.id MAMUJU – Laju inflasi di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menunjukkan fluktuasi tajam dalam empat tahun terakhir. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulbar tren kenaikan sempat terjadi sebelum akhirnya mengalami penurunan signifikan pada 2024.
Pada Januari 2021, inflasi tercatat sebesar 3,27 persen. Setahun kemudian, di Januari 2022, angkanya naik menjadi 4,16 persen. Kenaikan sebesar 0,89 persen tersebut mencerminkan adanya tekanan harga pada kebutuhan pokok dan komoditas pangan utama.
Memasuki Januari 2023, inflasi masih berada di posisi tinggi yakni 4,26 persen. Namun pada Januari 2024, angka tersebut turun tajam ke level 2,25 persen, atau melandai sekitar 2,01 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu langkah yang dijalankan adalah Gerakan Pangan Murah, kolaborasi BI dan Pemprov Sulbar yang menawarkan berbagai bahan pokok dengan harga subsidi hingga 70 persen dari harga pasar. Program ini menyasar masyarakat rentan dan wilayah dengan potensi gejolak harga.
Selain itu, pemerintah daerah turut menggenjot upaya swasembada pangan guna mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. Produksi komoditas strategis seperti beras, cabe, dan bawang diperkuat melalui intervensi hulu-hilir.
Meski capaian inflasi bergerak positif, BI Sulbar mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap potensi lonjakan harga menjelang momentum konsumsi tinggi seperti Ramadan, Natal, hingga akhir tahun.






