Majene, Garudapos.id — Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat produk kreatif berbasis budaya. Melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didanai oleh DIPA Unsulbar, tim dosen dan mahasiswa memberikan pelatihan intensif mengenai digitalisasi pemasaran dan optimalisasi storytelling marketing kepada kelompok remaja kreatif pengrajin miniatur sandeq di Lingkungan Parappe.

Pelatihan di pusat produksi souvenir SANDEQU ini menyasar para pemuda lokal yang selama ini konsisten melestarikan kerajinan miniatur sandeq—ikon maritim dan identitas kultural masyarakat Mandar.
Inisiatif ini dimotori oleh Irma Yulia Madjid selaku Ketua Tim Pengabdian, bersama Reski Fitriah sebagai anggota, serta didukung oleh lima orang mahasiswa dari Jurusan Perikanan Unsulbar. Mereka mendampingi langsung kelompok pengrajin yang dipimpin oleh Subhan.
Langkah pengabdian ini dilatarbelakangi oleh tantangan klasik yang dihadapi kelompok SANDEQU: ketergantungan penjualan pada momentum tertentu.

Selama ini, produk miniatur sandeq hanya laris manis ketika berlangsungnya event atau perlombaan sandeq tradisional. Pemanfaatan media digital sebagai etalase dan sarana promosi harian masih belum tersentuh secara optimal.
Padahal, di balik bentuk fisik miniatur tersebut, tersimpan potensi ekonomi yang besar serta nilai filosofis yang mendalam. Perahu sandeq bukan sekadar suvenir hiasan, melainkan simbol sejarah ketangguhan pelaut Mandar.
“Yang ingin kami dorong bukan hanya bagaimana souvenir ini terjual, tetapi bagaimana setiap produk memiliki cerita. Ketika konsumen membeli miniatur sandeq, mereka juga mendapatkan pengetahuan tentang sejarah dan budaya Mandar yang melekat pada sandeq tersebut,” ungkap Ketua Tim Pengabdian, Irma Yulia Madjid.
Dalam sesi pelatihan, pendekatan utama yang ditekankan adalah storytelling marketing. Melalui strategi ini, cara pandang terhadap pemasaran produk diubah total. Alih-alih hanya menonjolkan dimensi fisik seperti ukuran, bahan, dan harga, para perajin diajarkan untuk merangkai cerita di balik produk yang mereka buat.
Setiap miniatur sandeq kini diperkenalkan dengan narasi yang mencakup:
Asal-usul penamaan dan jenis perahu sandeq.
Perjalanan sejarah dan fungsi historisnya bagi masyarakat pesisir Mandar.
Nilai filosofis di balik setiap detail ukiran dan konstruksi perahu.
Dengan narasi ini, konsumen tidak lagi melihat miniatur sandeq sebatas barang dagangan biasa, melainkan sebuah karya seni bernilai sejarah yang menghadirkan ikatan emosional dan kultural.
Membuka Akses Pasar yang Lebih Luas
Selain aspek narasi, peserta pelatihan juga dibekali keterampilan teknis seputar pemanfaatan platform digital. Mulai dari teknik dasar pembuatan konten visual yang menarik, strategi pengelolaan media sosial, hingga cara membangun komunikasi interaktif dengan calon pembeli dari berbagai daerah.
Ketua kelompok SANDEQU, Subhan, menyambut antusias program pendampingan ini. Menurutnya, literasi digital dan strategi pemasaran modern menjadi kunci utama bagi kelompoknya untuk keluar dari keterbatasan pasar lokal dan menjangkau konsumen di luar wilayah Parappe.
Keterlibatan lima mahasiswa Jurusan Perikanan dalam kegiatan ini turut memberikan nilai tambah berupa pengalaman edukasi langsung di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat sinergi akademisi dalam memajukan sektor ekonomi kreatif daerah.
Melalui sinergi antara keterampilan kerajinan tangan, adopsi teknologi digital, dan kekuatan narasi budaya, kelompok SANDEQU diharapkan bertransformasi menjadi unit usaha yang mandiri dan berdaya saing tinggi. Pada akhirnya, program ini tidak hanya bermuara pada peningkatan pendapatan ekonomi para perajin, tetapi juga menjadi garda depan dalam menjaga kelestarian identitas budaya Mandar di era digital. (Red*)






