Merajut Asa Nelayan di Pesisir Mandar: Dosen Unsulbar Hadirkan Inovasi Rumpon hingga Kemandirian Ekonomi di Sabang Subik

Garudapos.id | Polewali Mandar — Desiran ombak di pesisir Desa Sabang Subik, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menjadi saksi bisu perjuangan harian para nelayan dalam menantang lautan. Di tengah himpitan tingginya biaya melaut dan ketidakpastian harga tangkapan, secercah harapan baru hadir melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan oleh tim dosen Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) pada Kamis (27/8/2026).
Kegiatan pembukaan ini dihadiri oleh Sekretaris Desa Sabang Subik, Halkim, M.Pd, serta Ketua Kelompok Nelayan Borahima bersama puluhan warga pesisir Sabang Subik.

Ketua Tim PkM Unsulbar, Muhammad Sajidin, M.Si, menjelaskan bahwa program pemberdayaan kali ini difokuskan pada Kelompok Nelayan Sitarrangan. Dirancang secara partisipatif, program ini tidak sekadar memberikan bantuan fisik, melainkan menyentuh akar permasalahan nelayan secara menyeluruh melalui tiga aspek utama: peningkatan produksi perikanan lewat penerapan teknologi tepat guna (TTG) rumpon, penguatan kapasitas teknis, serta perbaikan pengelolaan manajemen usaha dan pencatatan keuangan.

Inovasi Rumpon Ramah Lingkungan dan Edukasi Navigasi Modern
Langkah nyata pertama yang diinisiasi oleh para dosen Unsulbar adalah perakitan satu unit TTG berupa rumpon ramah lingkungan. Secara gotong royong, para nelayan bersama tim pengabdi merakit fasilitas pemikat dan pengumpul ikan (fish aggregating device) di area Dermaga Sabang Subik.

Rumpon ini dirancang khusus untuk menekan pengeluaran operasional melaut dan mengefisienkan waktu penangkapan. Material yang digunakan memadukan produk pabrikan berdaya tahan tinggi dan bahan lokal yang ekonomis:

Struktur & Penambat: Tali nilon berukuran 18 mm didukung pelampung styrofoam balok sebagai pengapung sekaligus penanda permukaan.
Pemberat: Jangkar beton berbahan dasar semen Bosowa agar struktur kokoh menahan hempasan arus.
Atraktor (Pemikat): Kombinasi waring, daun kelapa, dan ban bekas.

“Keterlibatan aktif para anggota kelompok Sitarrangan menjadi sarana transfer keterampilan praktis agar mitra mampu merawat dan mereplikasi teknologi rumpon ini secara mandiri di kemudian hari,” ujar Muhammad Sajidin.

Inovasi fisik tersebut dibarengi dengan pembekalan teknis mendalam dari pakar perikanan tangkap Unsulbar, Zulfathri Randhi, S.Pi., M.Si. Nelayan diedukasi mengenai mekanika rumpon, penyesuaian atraktor dengan sifat biologis ikan pelagis kecil, serta cara memperhitungkan topografi dasar laut dan karakteristik arus perairan guna memperpanjang usia pakai rumpon.

Tidak hanya itu, tim dosen juga melatih nelayan menandai dan memetakan titik koordinat rumpon menggunakan Global Positioning System (GPS) serta aplikasi navigasi pada ponsel pintar. Penggunaan teknologi presisi ini efektif mengeliminasi metode pencarian konvensional, memangkas pemborosan bahan bakar minyak (BBM), dan memastikan rumpon mudah ditemukan meski cuaca memburuk di laut lepas.

Transformasi Keuangan dan Pemasaran Kolektif Berbasis Kelembagaan
Dari sisi ekonomi, pendampingan intensif dipimpin langsung oleh dosen Unsulbar Muhammad Sajidin, S.Pd., M.Si., dan Dr. Farhanuddin, S.E., M.Si. Pendampingan ini bertujuan mengubah tata kelola ekonomi nelayan dari yang semula informal menjadi lebih terstruktur.

Kebiasaan lama nelayan yang kerap mengabaikan pencatatan arus kas mulai dikikis. Nelayan diedukasi untuk disiplin mengisi buku kas sederhana, mencatat seluruh pengeluaran operasional seperti pembelian BBM dan logistik, hingga menghitung total pendapatan harian. Melalui pembukuan ini, kalkulasi untung-rugi rumah tangga nelayan kini menjadi jauh lebih transparan dan terukur.

Sebagai puncak strategi pemberdayaan, tim dosen menekankan urgensi pergeseran strategi penjualan. Penjualan perorangan yang kerap membuat nelayan terpaksa menerima harga sepihak dari tengkulak kini diubah menjadi skema pemasaran kolektif di bawah kelembagaan Kelompok Nelayan Sitarrangan. Skema ini diyakini mampu meningkatkan posisi tawar (bargaining power) nelayan, memangkas rantai distribusi yang merugikan, serta menciptakan stabilitas harga demi kesejahteraan masyarakat Desa Sabang Subik.

Apresiasi tinggi datang dari anggota Kelompok Nelayan Sitarrangan, Tamsil. “Kami masyarakat Desa Sabang Subik, khususnya keluarga nelayan, mengucapkan terima kasih banyak kepada tim dosen Unsulbar atas diselenggarakannya pengabdian ini. Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam upaya meningkatkan produktivitas dan manajemen keuangan keluarga nelayan,” ungkapnya. (Red*)

related

Scroll to Top