GARUDAPOS.ID|MAJENE – Kabupaten Majene tercatat sebagai wilayah dengan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tertinggi di Provinsi Sulawesi Barat sepanjang masa Tanggap Darurat Dampak El Nino.
Data dari BPBD Posko Satgas Karhutla Majene per menunjukkan sudah terjadi kejadian Karhutla di 8 kecamatan dengan total luas lahan terbakar mencapai ratusan Ha. Dengan jumlah 57 titik dari bulan Agustus 2026 hingga hari ini.

Kepala Pelaksana BPBD Majene, Suardi, S.Ag,M.Pd mengatakan Kecamatan Banggae Timur, Banggae, Pamboang, dan Tubo Sendana menjadi 4 wilayah dengan titik api terbanyak.
“Penyebab utama 90% karena aktivitas manusia. Mulai dari pembakaran lahan untuk kebun, pembakaran sampah, hingga puntung rokok,” ujar Kalaksa BPBD Majene.
Dengan status ini, BPBD Majene bersama TNI, Polri, Damkar, dan relawan meningkatkan status siaga. Patroli darat dilakukan setiap hari di titik rawan.
“Kami sudah kerahkan 5 regu Satgas, 4 unit mobil pemadam, dan libatkan ORARI untuk pantau titik api. Tapi tanpa kesadaran warga, kami kewalahan,” tegasnya.
Wakil Bupati Majene, Andi Rita Mariani meminta seluruh Camat dan Kepala Desa aktif mensosialisasikan larangan bakar lahan. Sanksi tegas sesuai UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup juga akan diterapkan.
“Ini darurat. Kalau ada yang kedapatan bakar lahan, kami proses hukum. Jangan korbankan orang banyak demi kepentingan pribadi,” tegas Wabup.
BPBD juga membuka posko pengaduan Karhutla 24 jam di nomor kontak 082 396 151 666 dan Masyarakat diminta segera lapor jika melihat asap atau api.
BMKG memprediksi musim kemarau di Majene masih berlangsung sampai Oktober 2026. Warga diimbau hemat air dan tidak melakukan aktivitas yang memicu kebakaran.***
Penulis Acoantara






