Majene, Garudapos.id – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Majene resmi menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majene. Sinergi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait Pengembangan Pengawasan Partisipatif, yang berlangsung di Kantor Bawaslu Majene. Kamis, 18 Juni 2026.

Langkah strategis ini diambil sebagai upaya bersama untuk memperkuat pengawasan pemilu yang inklusif, sekaligus menekan potensi pelanggaran pemilu, seperti politisasi SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) serta politik uang (money politics) di lingkungan keagamaan.
Ketua Bawaslu Majene Syofian Ali mengungkapkan bahwa keterlibatan Kemenag sangat krusial mengingat lembaga tersebut menaungi penyuluh agama, tokoh masyarakat, hingga lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat.

“Kami berharap melalui Nota Kesepahaman ini, para tokoh agama dan penyuluh dapat menjadi perpanjangan tangan Bawaslu untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga integritas pemilu,” ujarnya dalam sambutan.
Sementara itu, Kepala Kemenag Kabupaten Majene H. M Sahlan memberikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif Bawaslu Kabupaten Majene . Pihaknya menyatakan kesiapan penuh untuk menyukseskan kerja sama ini demi iklim demokrasi yang lebih sehat di Kabupaten Majene.
Menurutnya, keputusan Bawaslu Majene untuk bersinergi dengan Kementerian Agama adalah sebuah langkah yang sangat tepat dan strategis.
“Mengingat Kemenag memiliki jaringan yang luas hingga ke tingkat akar rumput melalui para penyuluh agama dan tokoh-tokoh agama, pesan-pesan pengawasan pemilu diyakini akan lebih mudah diterima oleh masyarakat luas,” ujarnya.
Kemenag Majene berkomitmen untuk ikut ambil bagian dalam menyuarakan penolakan terhadap politik uang. Praktik ini dinilai tidak hanya merusak tatanan demokrasi, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama.
Melalui mimbar-mimbar keagamaan, masyarakat akan terus diedukasi untuk menolak segala bentuk politik uang. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kunci utama kesuksesan pemilu yang bersih dimulai dari dalam diri masing-masing individu.
“Sangat penting bagi kita semua untuk membangun kesadaran dalam diri tentang arti penting pemilu. Memilih bukan sekadar mencoblos, tetapi merupakan tanggung jawab moral untuk menentukan masa depan daerah,” tutupnya. (Red*)






