MAJENE, GARUDAPOS.ID – Status sebagai daerah lokus (focus location) stunting tahunan yang disandang Desa Manyamba, Kecamatan Tammerodo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, kini ditanggapi dengan langkah intervensi agresif. Tidak ingin terus terjebak dalam angka prevalensi risiko yang tinggi, Pemerintah Desa (Pemdes) Manyamba menggelar Rembuk Stunting berskala besar, Kamis (21/05/2026).
Langkah taktis ini dirancang bukan sekadar sebagai pemenuhan seremoni administratif, melainkan sebuah ikhtiar konkrit untuk merumuskan formula medis dan sosial yang tepat guna memutus rantai stunting di desa tersebut.

Dalam forum yang berlangsung dinamis tersebut, Kepala Desa Manyamba, Darwis, S.IP, secara lugas memaparkan realitas di lapangan. Ia menekankan bahwa status “lokus stunting” dari tahun ke tahun yang melekat pada wilayahnya harus diselesaikan dengan metode kerja yang tidak biasa.
“Desa Manyamba ini menjadi daerah lokus dari tahun ke tahun. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan menjadi rutinitas. Kita butuh perhatian khusus dan penanganan yang benar-benar ekstra dari semua pihak. Pencegahan stunting harus menjadi prioritas absolut kita bersama,” tegas Darwis di hadapan para peserta rembuk.
Sinyal darurat yang dilemparkan Kades Darwis direspons cepat oleh pihak kecamatan. Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kecamatan Tammerodo Sendana, Basruddin, S.P., M.M., yang hadir langsung, menyerukan pentingnya membuang ego sektoral demi keselamatan generasi masa depan desa.
“Kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Mari kita bangun kolaborasi total—mulai dari masyarakat, jajaran pemerintah desa, hingga instansi kesehatan. Hanya dengan kerja sama yang solid kita bisa menekan angka prevalensi ini,” ujar Basruddin memberi arahan.
Salah satu poin paling krusial dalam rembuk ini adalah reposisi peran para kepala dusun dan kader kesehatan desa. Mereka secara resmi ditunjuk sebagai garda terdepan (frontliner) yang wajib melakukan pengawasan ketat dan edukasi door-to-door ke rumah warga.
Rencana aksi pasca-rembuk ini akan difokuskan pada dua sasaran utama:
Intervensi Dini Ibu Hamil: Memantau asupan nutrisi secara ketat guna mencegah ibu hamil mengalami Kurang Energi Kronis (KEK)—kondisi yang menjadi pemicu utama lahirnya bayi stunting.
Edukasi Gizi Balita: Mengawal pola asuh dan pemenuhan gizi seimbang pada anak, terutama pada periode emas pertumbuhan.
Melalui komitmen kolektif yang ditandatangani dalam rembuk ini, Pemdes Manyamba optimis dapat mencetak generasi baru yang sehat dan tangguh, sekaligus merebut kembali hak desa untuk merdeka dan keluar sepenuhnya dari status daerah lokus stunting.
Kolaborasi Lintas Sektor yang Terlibat:
Kehadiran para pemangku kebijakan ini menegaskan bahwa penanganan stunting di Manyamba dilakukan secara terintegrasi:
Basruddin, S.P., M.M. (Kasi PMD Kecamatan Tammerodo Sendana)
Darwis, S.IP (Kepala Desa Manyamba)
Napi,S.Ag (Kepala KUA Kecamatan Tammerodo Sendana)
Perwakilan UPTD Puskesmas Tammerodo Sendana
Penyuluh KB Desa Manyamba (UPT DPPKB)
Pendamping Desa
Seluruh Kepala Dusun dan Kader Kesehatan se-Desa Manyamba.
(Nurmayanti, S.Sos)






