GARUDAPOS.ID | MAJENE – Forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang seharusnya menjadi ruang penyerapan aspirasi masyarakat justru menyisakan kekecewaan bagi warga Desa Sulai, Kecamatan Ulumanda.
Usulan pengadaan bibit jagung yang diajukan secara tertulis oleh delegasi Desa Sulai ditolak karena mencantumkan merek tertentu, yakni varietas jagung Sumo.
Penolakan tersebut disebutkan berdasarkan pertimbangan administrasi, karena dalam pengusulan bantuan tidak diperkenankan menyebut merek tertentu, kecuali melalui mekanisme pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD dalam penganggaran APBD.
Namun, salah satu perwakilan Desa Sulai dalam forum tersebut mencoba menjelaskan alasan di balik pencantuman merek itu. Ia menegaskan bahwa pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran penting bagi para petani.
“Jangan sampai kejadian terulang. Banyak petani tidak menanam bibit bantuan karena kualitasnya kurang sesuai. Bahkan ada yang menjadikannya pakan ayam,” ungkapnya dalam forum Musrenbang.
Menurutnya, permintaan bibit jagung varietas Sumo bukan tanpa alasan. Petani Desa Sulai menilai varietas tersebut lebih cocok dengan struktur tanah dan kondisi geografis wilayah mereka dan hasilnya sudah terbukti. Setiap jenis bibit memiliki karakter pertumbuhan yang berbeda-beda, tergantung pada kondisi lahan masing-masing daerah.
“Kalau kami usulkan tanpa menyebut varietas, dikhawatirkan yang datang kembali bibit yang kurang sesuai. Akhirnya petani merugi dan program pemerintah juga tidak maksimal,” jelasnya.
Namun, pernyataan Kepala Dinas Pertanian dalam forum tersebut justru memicu reaksi dari sebagian peserta. Dalam dialog itu, Kadis disebut menyampaikan bahwa apabila bantuan bibit jagung tersedia dan bukan varietas Sumo, maka tidak perlu diberikan kepada Desa Sulai.
“Kalau ada pembagian bibit jagung, warga Desa Sulai tidak usah dikasih. Nanti juga dijadikan pakan ayam, karn warga Sulai tidak mau kalau bukan bibit jagung Sumo,” demikian pernyataan yang disampaikan dalam forum
Ucapan tersebut dinilai sebagian warga sebagai bentuk generalisasi yang kurang mencerminkan semangat pembinaan. Terlebih lagi, pernyataan itu disampaikan dalam forum resmi Musrenbang yang dihadiri Wakil Bupati, anggota DPRD, Camat, serta sejumlah pimpinan OPD lainnya.
Delegasi Desa Sulai menegaskan bahwa mereka tidak pernah menolak bantuan pemerintah. Aspirasi yang disampaikan semata-mata bertujuan agar bantuan yang diberikan tepat guna dan tidak mubazir.
“Yang kami perjuangkan bukan sekadar merek, tetapi kecocokan dan keberhasilan panen. Kami ingin program pemerintah benar-benar berhasil di lapangan agar anggaran bisa dimaksimal,” tegas salah satu perwakilan.
Sebagian warga juga berharap adanya klarifikasi serta komunikasi yang lebih bijak dari Dinas Pertanian, agar Musrenbang benar-benar menjadi ruang dialog yang solutif, bukan ruang yang mematahkan aspirasi petani.
Mereka juga meminta kepada Bupati dan Wakil Bupati agar memastikan pejabat yang diutus dalam forum-forum resmi memiliki sikap yang menyejukkan dan membangun, sehingga tidak menimbulkan kesan provokatif di tengah masyarakat.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kebijakan pertanian tidak dapat dilepaskan dari kondisi riil di lapangan. Petani bukan sekadar penerima bantuan, melainkan pelaku utama yang memahami karakter tanah serta kebutuhan tanamannya sendiri.
Meski terjadi dinamika dalam proses Musrenbang di Kecamatan Ulumanda, kegiatan tersebut tetap berlangsung hingga selesai dalam suasana tertib.
©️EPN






