MAJENE,GARUDAPOS.ID – Musyawarah Pertanggungjawaban Tahun Anggaran 2025 yang digelar di Aula Kantor Desa pada Sabtu (07/02/2026), pengurus BUMDes “Bangkit Bersama” Desa Tammerodo Utara memaparkan laporan keuangan dan progres operasional secara transparan di hadapan Pemerintah Desa, BPD, dan mitra usaha.
Ketua BUMDes “Bangkit Bersama”,Darmawati melaporkan bahwa pada tahap pertama, anggaran yang berhasil dicairkan adalah sebesar 60% dari total pagu, yakni senilai Rp116.525.000. Dari dana tersebut, mayoritas dialokasikan untuk modal produksi dan operasional, dengan rincian sebagai berikut:
Modal Produksi Ternak: Investasi terbesar dialokasikan untuk pengadaan 37 ekor kambing (33 betina dan 4 jantan) dengan total nilai Rp96.250.000.
Biaya Operasional: Mencakup gaji karyawan (Rp7,3 juta), pelatihan (Rp4,3 juta), ATK, SPPD, dan biaya teknis lainnya dengan total Rp13.130.000.
Kesehatan Ternak: Biaya vitamin dan obat-obatan yang dilakukan melalui pengawasan lapangan.

Saat ini, sisa dana yang dikelola berjumlah Rp6.923.000 yang tersimpan di rekening BUMDes, serta dana tunai sekitar Rp498.000. Seluruh bukti transaksi telah diarsipkan dan siap untuk proses audit.
Pihak pengurus mengakui adanya kendala teknis yang menyebabkan anggaran Tahap II belum dapat direalisasikan sepenuhnya di akhir tahun 2025. Masalah utama terletak pada keterbatasan jumlah pengurus aktif, sehingga manajemen memilih untuk fokus memaksimalkan pengawasan pada operasional Tahap I agar bantuan ternak tidak terbengkalai.

“Kami menyadari masih dalam proses belajar sebagai kepengurusan baru. Kami memohon maaf atas kendala operasional selama masa transisi ini dan berkomitmen mencari solusi manajemen untuk percepatan tahap berikutnya,” ungkap Ketua BUMDes Darmawati dalam laporannya.
Meski menghadapi kendala manajerial, unit usaha kambing menunjukkan hasil positif. Saat ini, terdapat 21 mitra peternak di Desa Tammerodo Utara yang mengelola ternak tersebut. Dilaporkan bahwa beberapa kambing bantuan sudah mulai melahirkan dan sebagian lainnya dalam keadaan bunting.
Kepala Desa Tammerodo Utara, Muliadi, S.Pd., dalam sambutannya mengungkapkan fakta bahwa anggaran Dana Desa untuk tahun 2026 mengalami penurunan drastis. Dari yang sebelumnya mencapai angka Rp900-an juta, kini hanya tersisa sekitar Rp275 juta.
“Kondisi ini memaksa kita untuk tidak lagi fokus pada pembangunan fisik, melainkan pada pemberdayaan. BUMDes harus menjadi tulang punggung yang menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PAD) guna membiayai hal-hal mendesak di desa,” ujar Muliadi saat membuka acara.
Ketua BPD, Sudirman, turut menyoroti potensi strategis desa yang berada di jalur lintasan utama. Ia merasa prihatin karena selama ini masyarakat lokal cenderung menjadi penonton di saat pelaku usaha dari luar desa justru meraih keuntungan besar di wilayah Tammerodo Utara.
“Kita punya potensi besar, tapi kenapa kita hanya jadi pembeli di kampung sendiri? Kita harus memastikan BUMDes ini bangkit agar program sosial seperti asrama mahasiswa di Majene—yang kini terhenti karena kendala dana—bisa kita jalankan kembali melalui PAD,” tegas Sudirman.
Sementara itu, Pendamping P3MD Kecamatan Tammerodo Sendana, Ekawati, S.P., memberikan catatan tajam terkait tingkat kehadiran perangkat desa dan masyarakat. Menurutnya, Musyawarah Pertanggungjawaban adalah forum tertinggi untuk transparansi anggaran agar tidak muncul tudingan negatif di kemudian hari.
“Meskipun hari ini BUMDes baru melaporkan pertanggungjawaban pengeluaran dan belum menghasilkan PAD, kehadiran Bapak/Ibu sangat penting. Ke depan, partisipasi masyarakat harus ditingkatkan agar perencanaan dan pengawasan berjalan beriringan,” jelas Ekawati.
BUMDes Bangkit Bersama kini mulai memfokuskan unit usahanya pada sektor peternakan kambing sebagai program tematik. Pemerintah desa berharap hasil dari usaha ini dapat segera dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat dalam waktu dekat.
Laporan: Abi Garudapos






