Mengenang Sosok Jenderal Salim: Organisatoris, Senior, dan Bijak

 

Garudapos.id|Polman,Sulbar — Pada tahun 2009, kami bergabung dan aktif dalam organisasi Paguyuban Mandar, yakni Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) di Dewan Pengurus Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Pada masa itulah saya dan teman-teman mulai mengenal sosok Jenderal Salim secara lebih dekat. Komunikasi kami sangat intens, khususnya dalam urusan organisasi. Bersama beliau, kami turut mendirikan sayap organisasi KKMSB, yaitu Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Sulawesi Barat , yang pelantikannya dilakukan langsung oleh Jenderal Salim.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2016, melalui BPC dan DPW KKMSB kota makassar dan sulawesi selatan , saya diberikan kepercayaan untuk menjadi Ketua Panitia Halal Bi Halal yang dilaksanakan di Mamuju. Pada kesempatan tersebut, saya mencoba meramu kegiatan ini tidak hanya sebagai Halal Bi Halal, tetapi juga sebagai Pertemuan Saudagar Mandar Pertama Se-Indonesia. Gagasan ini saya sampaikan kepada Ketua KKMSB Pusat saat itu, Bapak Salim S. Mengga, dan beliau merespons dengan sangat baik. Menurut beliau, kegiatan ini penting untuk menyolidkan para saudagar Mandar, baik yang berada di Sulawesi Barat maupun di luar daerah, agar memiliki kepedulian terhadap pembangunan Sulawesi Barat ke depan.

Atas dasar itu, beliau mengeluarkan Surat Keputusan Kepanitiaan. Setelah SK terbit, saya bersama panitia menyampaikan gagasan tersebut kepada Gubernur Sulawesi Barat, Bapak Anwar Adnan Saleh, dan beliau pun menyambut baik rencana tersebut, mengingat Sulawesi Barat diproyeksikan sebagai salah satu penyangga Ibu Kota Negara, sehingga peran saudagar menjadi sangat strategis.

Singkat cerita, pada tahun 2018, KKMSB Pusat melaksanakan Konferensi di Golden Boutique Hotel, Jakarta, yang saat itu kami adalah salah satu pimpinan sidang yang kemudian menetapkan Asri Anas sebagai Ketua KKMSB Pusat menggantikan Bapak Salim S. Mengga. Meski tidak lagi memimpin KKMSB, komunikasi kami dengan Bapak Salim tetap terjalin dengan sangat baik.

Bahkan, saat saya melakukan pendampingan perkara di Polres Metro Jakarta Selatan, saya kerap berdiskusi dengan beliau mengenai persoalan tersebut. Beliau memberikan banyak masukan dan menawarkan metode penyelesaian, karena beliau sangat memahami karakter pihak yang berhadapan dengan saya saat itu. Beliau mengenal betul sosok tersebut. Setelah itu, setiap kali bertemu di Polman, beliau sering menyapa saya dengan kalimat, “Dipirang poleo?” dan saya menjawab, “Baru polea puang.” Sebuah percakapan sederhana yang penuh keakraban, karena saat itu beliau belum mengetahui secara pasti domisili saya.

Pada tahun 2021, ketika saya memimpin BAIN HAM RI dan LBH Suara Panrita Keadilan Provinsi Sulawesi Barat hingga saat ini, beliau tetap membersamai kami sebagai Dewan Pembina. Dalam berbagai persoalan hukum, kami sering membangun komunikasi, dan beliau selalu berpesan kepada saya:
“Tegakkan keadilan dan berjuanglah untuk Rakyat.”

Kepergianmu adalah kehilangan besar bagi kami semua, Daeng.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Al-Fatihah.

related

Scroll to Top