Majene, Garudapos.id – Pemerintah Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, baru saja menyaksikan kesuksesan penyelenggaraan lomba perahu tradisional Sandeq tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bertempat di Pantai Labuang, Kecamatan Banggae Timur, event yang berlangsung pada Selasa, 17 Juni 2025 ini, bukan sekadar perlombaan biasa, melainkan sebuah perwujudan nyata komitmen terhadap pelestarian budaya maritim dan pembentukan karakter generasi muda yang berakar kuat pada nilai-nilai lokal.

Acara yang meriah ini dihadiri oleh Wakil Bupati Majene, Dr. Hj. Andi Rita Mariani Basharu, M.Pd., Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Yayuk Sri Budi Rahayu, yang turut memberikan semangat dan apresiasi kepada para peserta. Kehadiran beliau, beserta Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majene, Camat Banggae Timur, dan Kapolsek Banggae, semakin menegaskan pentingnya dukungan pemerintah terhadap pelestarian warisan budaya.

Lomba Sandeq ini merupakan bagian integral dari program unggulan “Tradisi Lestari Generasi Hebat Sekolah Lepa-Lepa Student On Sandeq”, sebuah inisiatif kolaboratif antara Pemerintah Kabupaten Majene dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Program ini dirancang secara khusus untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya maritim Mandar, khususnya perahu Sandeq, yang merupakan simbol identitas dan kearifan lokal masyarakat pesisir.

Puluhan pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten Majene berpartisipasi aktif dalam lomba ini, menunjukkan semangat juang dan kecintaan mereka terhadap warisan budaya leluhur. Antusiasme peserta tidak hanya terlihat dari keterampilan mereka dalam mengendalikan perahu Sandeq, tetapi juga dari persiapan yang matang dan kerja sama tim yang solid. Suasana pantai pun dipenuhi oleh sorak sorai penonton yang terdiri dari masyarakat setempat, guru, orang tua, dan para pendukung yang turut memberikan semangat kepada para peserta muda.
Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang sejarah, teknik pembuatan, dan makna filosofis di balik perahu Sandeq. Para peserta tidak hanya belajar tentang keterampilan navigasi dan penguasaan perahu, tetapi juga tentang nilai-nilai kearifan lokal seperti kerja sama tim, sportivitas, dan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan laut.

Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Yayuk Sri Budi Rahayu, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Majene atas inisiatif dan komitmennya dalam melestarikan budaya lokal. Beliau menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, provinsi, dan kementerian dalam upaya pelestarian budaya bangsa. “Program Student On Sandeq ini merupakan contoh nyata bagaimana kita dapat melestarikan budaya bangsa sekaligus mencetak generasi emas yang cinta budaya sejak dini,” ujar beliau.

Wakil Bupati Majene, Dr. Hj. Andi Rita Mariani Basharu, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan harapan agar Majene tidak hanya menjadi tempat perlintasan, tetapi juga menjadi destinasi wisata unggulan yang menyuguhkan keindahan alam, keramahan masyarakat, dan kekayaan kuliner khas Mandar. Beliau juga menekankan pentingnya menjaga warisan budaya lepa-lepa, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat pesisir Mandar. “Lepa-lepa adalah saraf budaya yang menjadi warisan leluhur kita. Kita harus menjaga dan melestarikannya untuk generasi mendatang,” tegas beliau.
Lomba perahu tradisional Sandeq di Majene bukan hanya sekadar event tahunan, tetapi sebuah investasi jangka panjang dalam pelestarian budaya dan pembentukan karakter generasi muda. Keberhasilan acara ini diharapkan dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia untuk turut melestarikan warisan budaya maritim mereka, serta menjadi contoh nyata bagaimana budaya lokal dapat diintegrasikan dengan program pembangunan berkelanjutan. (ABI)






