Menjinakkan Amukan Api, Merawat Jiwa Gotong Royong di Tanah Seppong

Seppong,Garudapos.id — Langit Desa Seppong mendadak tidak biasa pada Selasa, 11 Agustus 2026. Kepulan asap putih yang awalnya dikira sekadar sisa pembakaran sampah di ladang, perlahan berubah menjadi gulungan pekat yang mencemaskan. Pengeras suara dari masjid desa pun bergemanya, memecah ketenangan dan menjadi tanda bahaya: si jago merah tengah mengamuk di area perkebunan warga.

Di titik inilah denyut nadi solidaritas masyarakat diuji. Tanpa menunggu komando birokrasi yang panjang, reaksi spontan lahir dari berbagai elemen.

Sekretaris Desa Seppong, Sulaeman, bersama para perangkat desa, langsung bergegas menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP). Namun, yang membuat peristiwa ini istimewa adalah siapa saja yang datang bahu-membahu di sana. Ada pemuda Karang Taruna yang sigap berlari, warga dari Dusun Punaga dan Pummacinna yang membawa apa adanya, hingga para mahasiswa KKN STAIN Majene yang melebur tanpa canggung bersama petani dan aparat desa.

Senjata Seadanya dan Ketulusan Hati
Menghadapi amukan api di area perkebunan bukanlah perkara mudah. Dengan medan yang menantang dan embusan angin yang mempercepat rambatan api, tim gabungan sempat dibuat kewalahan.

Modal mereka di lapangan tidak muluk-muluk: dua unit mesin penyemprot air (Sancin) dan peralatan seadanya yang digotong bersama. Namun, ada satu kekuatan besar yang tidak tercatat dalam spesifikasi alat pemadam mana pun—yaitu ketulusan untuk saling melindungi.

Di tengah panasnya bara dan sesaknya asap, tangan-tangan yang biasanya memegang pena, buku kuliah, atau cangkul, kini bersatu mengarahkan aliran air demi menyelamatkan sumber penghidupan warga.

Kesiagaan yang Menuntaskan Tugas
Bagi warga Seppong, pekerjaan belum selesai hanya karena lidah api utama berhasil dilumpuhkan. Mereka tahu betul karakter api di musim kemarau: ia bisa tidur di balik tumpukan abu dan sewaktu-waktu bangkit kembali.

Oleh karena itu, setelah kobaran besar mereda, pemandangan hangat tersaji di kebun warga. Perangkat desa, pemuda, warga, dan mahasiswa tetap berdiri mengawal lokasi. Mesin Sancin terus menderu, menyiram setiap jengkal tanah yang masih mengepulkan panas. Baru setelah pemeriksaan dilakukan secara cermat dan situasi dinyatakan benar-benar steril, mereka melangkah pulang dengan rasa lega.

Musibah kebakaran lahan ini meninggalkan pesan reflektif yang mendalam. Pemerintah Desa Seppong, mewakili Kepala Desa, menyampaikan imbauan terbuka agar seluruh warga—khususnya para petani—semakin meningkatkan kehati-hatian di tengah cuaca ekstrem saat ini. Kelalaian kecil seperti puntung rokok atau sisa pembakaran yang ditinggal tanpa pengawasan bisa menjadi malapetaka bagi banyak orang.

Namun, di balik ancaman musibah tersebut, Desa Seppong telah memberikan teladan terbaik tentang arti sebuah komunitas. Bahwa sejatinya, kekuatan terbesar sebuah desa bukanlah terletak pada kecanggihan infrastrukturnya, melainkan pada keeratan ikatan warganya saat badai dan api datang menguji.

Laporan: Aby Garudapos

related

Scroll to Top