GARUDAPOS.ID|POLEWALI MANDAR — Akademisi Putra Asal Polewali Mandar Dr. (Cand) Sadar Bahtiar, S.IP., M.I.P dimana ikut berbicara dalam menyikapi di Dalam konteks dinamika politik pasca kekosongan jabatan Wakil Gubernur Sulbar, arah preferensi Suhardi Duka terhadap calon dari internal koalisi seperti Partai NasDem atau Demokrat dapat dibaca sebagai langkah politis jangka pendek, namun menyimpan konsekuensi strategis jangka panjang.Jumat,(03/04/2026)
Dalam wawancara dengan beberapa media Dr. (Cand) Sadar Bahtiar, S.IP., M.I.P menjelaskan Jika figur yang diusulkan ke DPR adalah Koje (kader NasDem), maka peluang terbesar akan mengarah pada penguatan dominasi NasDem dalam struktur kekuasaan daerah. Hal ini memang menguntungkan dalam konsolidasi elite partai, tetapi berpotensi mengurangi keseimbangan koalisi serta membuka ruang ketergantungan politik yang lebih besar kepada satu partai.
Sementara itu.ungkapnya
Sadar Bahtiar , apabila yang diusulkan adalah Samsul Samad dari Demokrat, maka secara politis justru kurang menguntungkan. Komposisi gubernur dan wakil gubernur yang sama-sama berasal dari Demokrat berpotensi menggerus basis massa koalisi, karena tidak terjadi perluasan dukungan politik. Dalam konteks elektoral, hal ini . efektif untuk menjaga stabilitas dukungan jangka panjang, khususnya menuju kontestasi 2029. Kondisi ini bisa menimbulkan kejenuhan politik dan melemahkan daya jangkau pemerintahan terhadap kelompok pemilih yang lebih luas.tuturnya
Lanjut Sadar Bahtiar , Jika opsi jatuh kepada Dirga, maka skenario yang muncul cenderung lebih kompetitif ke depan. Besar kemungkinan akan terjadi kontestasi terbuka antara Partai Demokrat dan NasDem pada Pilkada 2029, karena tidak adanya figur pemersatu yang memiliki akar emosional kuat di kedua basis. Ini berpotensi memecah koalisi lebih awal dan menciptakan fragmentasi politik yang dapat merugikan stabilitas pemerintahan saat ini maupun peluang kemenangan di masa mendatang.ucapnya
Masih Sadar bahtiar , Sebaliknya, apabila yang diusulkan adalah Hj. Fatmawati, istri dari Salim S. Mengga, maka terdapat keuntungan strategis yang jauh lebih besar. Ia tidak hanya membawa legitimasi moral sebagai penerus figur kuat, tetapi juga mampu menjaga basis pendukung militan dan loyalis jaringan Salim Sayyid Mengga (JSM) yang selama ini menjadi salah satu penopang kemenangan pasangan gubernur. Dalam skenario ini, Suhardi Duka akan tetap mendapatkan dukungan politik yang solid, tidak hanya untuk menjaga stabilitas pemerintahan saat ini, tetapi juga sebagai modal kuat menghadapi Pilkada 2029. Dengan demikian, pilihan terhadap Hj. Fatmawati bukan sekadar keputusan emosional, melainkan langkah rasional untuk menjaga kesinambungan kekuatan politik, memperluas legitimasi, serta mempertahankan loyalitas basis massa yang sudah terbukti signifikan.
“Hj. Fatmawati Salim memiliki sejumlah keunggulan strategis yang menjadikannya figur potensial untuk menggantikan posisi Wakil Gubernur Sulawesi Barat. Keunggulan utama terletak pada warisan politik (political legacy) yang kuat, di mana nama besar dan reputasi almarhum JSM telah melekat di tengah masyarakat. Hal ini memberikan efek elektoral berupa kepercayaan publik yang sudah terbentuk, sehingga ia tidak memulai dari nol dalam membangun legitimasi politik. Selain itu, faktor simpati publik pasca wafatnya JSM menjadi modal sosial yang signifikan, karena masyarakat cenderung mendukung figur yang dianggap mampu melanjutkan perjuangan dan pengabdian tokoh yang telah mereka percayai. Ia juga berpotensi mewarisi jaringan politik dan sosial yang telah dibangun sebelumnya, baik di tingkat partai, birokrasi, maupun tokoh masyarakat lokal, yang sangat penting dalam menjaga stabilitas pemerintahan dan kesinambungan program pembangunan di Sulawesi Barat”
Di sisi lain, kekuatan dan pengaruh JSM sendiri menjadi dasar utama mengapa posisinya layak dilanjutkan oleh figur terdekatnya. Ia merupakan tokoh dengan rekam jejak lengkap, mulai dari karier militer sebagai Mayor Jenderal TNI, anggota DPR RI selama dua periode, hingga terpilih sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat pada Pilgub 2024 dengan perolehan sekitar 46,18% suara atau lebih dari 337 ribu suara. Capaian tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki basis elektoral yang kuat dan loyal, sekaligus pengaruh politik yang signifikan di daerah. Selain itu, kedekatan kultural dengan masyarakat Sulawesi Barat serta jaringan elite nasional yang luas menjadikannya figur yang tidak hanya kuat secara lokal, tetapi juga memiliki akses strategis ke tingkat pusat. Dengan kombinasi tersebut, maka Hj. Fatmawati Salim dinilai memiliki peluang besar untuk melanjutkan peran tersebut, karena mampu mengonsolidasikan warisan dukungan politik, menjaga keberlanjutan kebijakan, serta mempertahankan kepercayaan publik yang telah dibangun oleh Salim S. Mengga selama ini.tutupnya **






